Frame yang Pas untuk lensa progresif

Maraknya lensa-lensa progresif (Progressive Addition Lens) yang berharga sangat murah (dibanding beberapa tahun lalu) saat ini membuat lensa jenis ini semakin banyak dipilih oleh orang-orang yang sudah mengalami presbyopia, terutama presbyopia pemula yang umurnya kurang dari 50 tahun. Para penderita presbyopia pemula ini kebanyakan masih sangat peduli dengan penampilan sehingga cenderung tidak suka dengan kacamata bifokal yang menunjukkan bahwa pemakainya sudah tua (karena penderita presbyopia biasanya sudah berumur lebih dari 40 tahun).

Berbeda dengan lensa-lensa jenis lain, pelayanan lensa progresif membutuhkan beberapa pengetahuan dan kemampuan khusus yang umumnya hanya dimiliki oleh optisi (tenaga ahli di bidang penanganan kacamata) yang telah mendapatkan pendidikan ophtalmic optic. Sejak dari pemilihan bingkai hingga fitting/pengepasan akhir, pelaksanaannya harus mempertimbangkan aspek-aspek teknis lensa progresif yang lebih kompleks dari pada lensa monofokal maupun lensa bifokal. Sayangnya, hingga saat ini di Indonesia masih sangat banyak pramuniaga optik yang bukan merupakan seorang optisi sebagaimana yang dimaksud di awal paragraf ini. Karena itu seringkali mereka kurang dapat membantu dalam tahap pemilihan bingkai yang benar agar lensa progresif dapat berfungsi dengan optimal. Mereka masih terpaku pada acuan bentuk bingkai yang cocok dengan bentuk wajah atau mungkin bentuk bingkai yang sedang ngetren.

Masih kurangnya jumlah optisi yang berpendidikan khusus (di Indonesia, lembaga pendidikan formalnya saat ini belum ada 20) mungkin merupakan penyebab utama keadaan tersebut. Karena itulah, akan lebih bijaksana jika para peminat atau calon pemakai lensa progresif juga mengetahui bentuk-bentuk bingkai kacamata yang cocok untuk jenis lensa yang diinginkannya.

  1. Ukuran bingkai.
    Ukuran bingkai yang akan berpengaruh terhadap unjuk kerja lensa progresif adalah ukuran rim pada arah vertikal, atau oleh para optisi disebut dengan B-size. Agar lensa progresif memberikan unjuk kerja yang optimal, ukuran ini sebaiknya tidak kurang dari 33mm. Bila menginginkan lebih kecil/sipit dari 33mm, maka harus memilih jenis lensa progresif yang berkoridor pendek (biasanya berharga lebih mahal). Tapi juga sebaiknya tidak kurang dari 26mm. Yang sering kurang diperhatikan adalah di titik manakah pengukuran itu dilakukan? Tempat pengukuran yang benar adalah area di mana zona dekat dari lensa progresif akan ditempatkan. Lihat ilustrasi berikut:
    mengukur bsize untuk lensa progresif
  2. Bentuk bingkai.
    Bingkai yang optimal untuk lensa progresif adalah yang memiliki bagian bawah rim yang cenderung rata atau lurus dalam arah horisontal. Bagian bawah rim yang miring menanjak ke arah pangkal hidung sehingga banyak memotong zona dekat lensa progresif akan membuat area penglihatan dekat menjadi sempit.
    bingkai untuk pal yang oke
  3. Bantalan hidung.
    Pada saat pengepasan, bagian bingkai yang banyak disetel adalah tangkai dan bantalan hidung, jadi pilihlah bingkai yang memiliki bantalan hidung (nosepad) yang mudah disetel. Meski begitu akan sangat bagus jika bingkai yang dipilih memiliki jarak antar nosepad yang tidak berbeda jauh dengan ukuran batang hidung di mana bantalan tersebut akan menempel. Ini untuk menghindari pengubahan bentuk dudukan nosepad yang terlalu ekstrim. Sebaiknya hindari bingkai yang bernosepad permanen (biasanya pada bingkai plastik/seluloit/zyl) sehingga tidak bisa disetel-setel. Kecuali bingkai tersebut bisa dipakai dengan pas pada posisi yang ideal (sesuai dengan persyaratan teknis pemasangan lensa progresif) tanpa perlu penyetelan nosepad lagi.
  4. Bentuk tangkai.
    Sebaiknya tidak memilih bingkai kacamata yang memiliki tangkai berbentuk seperti ini karena kurang dapat memberi kedudukan kacamata yang stabil. Ketidakstabilan posisi kacamata akan sangat mempengaruhi unjuk kerja lensa progresif, terutama ketika dipakai untuk melihat jarak menengah dan dekat. Jika tetap menginginkan tangkai yang seperti itu karena sedang ngetren, pilihlah yang ujung belakangnya memiliki lapisan karet yang dapat membangkitkan friksi untuk menahan agar kacamata tidak mudah merosot.
  5. Kemiringan rim pada saat dipakai.
    Pemasangan lensa progresif pada umumnya sangat menyarankan posisi lensa yang sedikit miring ke bawah (pantokospik). Bingkai kacamata yang tidak terlalu tebal biasanya bisa disetel untuk dapat memberikan posisi demikian. Namun, ada beberapa bingkai kacamata yang sangat kaku karena konstruksi maupun ketebalannya, sehingga tidak dapat disetel-setel lagi. Jika bingkai yang disukai kebetulan bersifat seperti itu, pastikan bingkai tersebut pada saat dipakai dapat memberikan posisi lensa sebagaimana yang dipersyaratkan. Jika tidak, sebaiknya pilih bingkai yang lain.pantokospik

Sepertinya, filosofi “untuk mendapatkan hasil yang baik, mulailah dengan awalan yang baik” berlaku untuk kacamata progresif ini.

http://www.optiknisna.info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: